Luwak : Fisiologi, Perilaku, Jenis Musang dan Persebarannya serta Mengenal Tentang Kopi Luwak

Luwak : Fisiologi, Perilaku, Jenis Musang dan Persebarannya serta Mengenal Tentang Kopi Luwak – Para Pembaca yang kami banggakan, Tanam.co.id kali ini akan menjelaskan tentang Luwak.

Dan menerangkan tentang fungsi serta manfaatnya. Untuk lebih jelasnya mari kita baca uraiannya berikut ini.


Contents

Luwak : Fisiologi, Perilaku, Jenis Musang dan Persebarannya serta Mengenal Tentang Kopi Luwak


Luwak ialah nama lokal dari tipe musang yang ada di Indonesia, sehingga kerap diucap bagaikan musang Luwak, Luwak ataupun common palm civet.

Musang Luwak yang mempunyai nama latin Paradoxurus hermaphroditus, tercantum dalam ordo Carnivora, famili Viveridae, subfamili Paradoxurinae serta genus Paradoxurus.

Musang luak merupakan hewan menyusu( mamalia) yang tercantum suku musang serta garangan( Viverridae). Nama ilmiahnya merupakan Paradoxurus hermaphroditus serta di Malaysia diketahui bagaikan musang pulut.

Hewan ini pula terpanggil dengan bermacam istilah lain semacam musang( nama universal, Betawi), careuh bulan( Sunda), luak ataupun luwak( Jawa), dan common palm civet, common musang, house musang ataupun toddy cat dalam bahasa Inggris.


Fisiologi Luwak

Musang bertubuh lagi, dengan panjang total dekat 90 centimeter( tercantum ekor, dekat 40 centimeter ataupun kurang). Abu- abu kecoklatan dengan ekor hitam- coklat lembut.

Sisi atas badan abu- abu kecoklatan, dengan alterasi dari corak tengguli( coklat merah tua) hingga kehijauan.

Jalan di punggung lebih hitam, umumnya berbentuk 3 ataupun 5 garis hitam yang tidak begitu jelas serta terputus- putus, ataupun membentuk deretan bercak- bercak besar.

Sisi samping serta bagian perut lebih pucat. Ada sebagian bercak samar di sebelah badannya.

Wajah, kaki serta ekor coklat hitam hingga gelap. Dahi serta sisi samping wajah sampai di dasar kuping bercorak keputih- putihan, semacam beruban.

Satu garis gelap samar- samar melalui di tengah dahi, dari arah hidung ke atas kepala.

Posisi kelamin musang betina dekat dengan anus serta mempunyai 3 pasang puting susu, sebaliknya posisi kelamin musang jantan dekat dengan pusar.

Musang Luwak yang mempunyai nama latin Paradoxurus hermaphroditus, tercantum dalam ordo Carnivora, famili Viveridae, subfamili Paradoxurinae serta genus Paradoxurus.

Musang Luwak mempunyai bobot badan berkisar 1, 3 kilogram hingga 5 kilogram, panjang badan dekat 54 centimeter serta panjang ekor nyaris sejauh badannya, ialah dekat 48 centimeter.

Tetapi, musang yang dipelihara bagaikan hewan kesayangan( pet animal) berat tubuhnya bisa menggapai 15 kilogram.

Badannya ditutupi bulu rambut yang agresif bercorak abu- abu kecokelatan dengan bercak ataupun belang gelap.

Bulu rambut pada wajah paling utama di dekat mata serta hidung bercorak putih semacam topeng dengan garis gelap di antara kedua mata, dan corak gelap pada moncong, kuping, kaki bagian dasar, ujung ekor, serta 3 baris garis gelap pada wilayah punggung.

Sebaliknya pada spesies tertentu mempunyai bulu putih di atas mata serta ujung ekor. Hewan jantan ataupun betina mempunyai kelenjar bau yang ada di dekat anus( perineal gland) serta menghasilkan aroma khas semacam bau pandan, sehingga kerap pula diucap musang pandan.

Kelenjar bau lebih tumbuh pada Luwak jantan, yang digunakan tidak hanya buat berbicara dengan komunitasnya, berikan sinyal kepada hewan betina serta mencirikan wilayah teritori.

Di habitat alamiahnya Luwak bisa hidup 15 hingga 22 tahun, sebaliknya yang dipelihara di kandang dapat hingga 25 tahun.


Jenis dan Persebarannya

Tidak hanya musang Luwak, ada 4 tipe musang yang lain yang tercantum dalam subfamili Paradoxurinae, ialah:

  • Binturong( Arctictis binturong);
  • Musang pangkal( Arctogalidia trivirgata);
  • Musang Sulawesi( Macrogalidia musschenbroekii); dan
  • Musang galing/ bulan( Paguma larvata)

Kelima tipe musang ini lumayan diketahui di Indonesia serta mempunyai wilayah sebaran yang luas, kecuali Macrogalidia musschenbroekii yang cuma ditemui di Sulawesi.

Tetapi, di antara kelima tipe musang tersebut yang sangat banyak ditemukan serta diketahui warga merupakan musang Luwak. Hewan ini mempunyai wilayah sebaran yang luas di Asia Selatan serta Asia Tenggara.

Di Indonesia, sebagian pulau semacam Sumatera, Jawa, Kalimantan, Bali, Bawean serta Siberut( Mentawai) ialah wilayah sebaran natural musang Luwak.

Sebaliknya keberadaannya di Papua, Kepulauan Sunda Kecil, Maluku, serta Sulawesi ialah hasil bawaan/ pengenalan( introducing) oleh manusia.

Hewan ini banyak ditemukan pada sebagian jenis habitat, semacam hutan primer serta sekunder, kebun serta apalagi di dekat pemukiman manusia.

Jenis- jenis musang tersebut di habitat alamiahnya mempunyai dimensi badan kecil, kira- kira sebesar kucing, kecuali binturong.


Perilaku Luwak

Semacam pada biasanya tipe musang, Luwak tercantum hewan soliter yang aktif di malam hari( nokturnal) serta menggemari hidup di atas tumbuhan( arboreal).

Pada siang hari Luwak tidur di lubang- lubang tumbuhan, ataupun di ruang- ruang hitam di dasar atap rumah. Luwak jantan mempunyai wilayah jelajah yang luas hingga 17 km2, sebaliknya betina cuma 2 km2.

Sebab sifatnya yang soliter, Luwak jantan serta betina cuma berkumpul pada masa kawin, kecuali betina yang lagi mengurus anaknya.

Sikap reproduksi musang belum banyak dikenal, terlebih sebab sifatnya yang soliter serta nokturnal. Tetapi, sebab musang Luwak telah banyak dipelihara, hingga data reproduksinya lebih banyak dikenal.

Pada biasanya Luwak bisa bereproduksi sejauh tahun, dengan siklus estrus dekat 80 hari. Sehabis masa kebuntingan sepanjang 2 bulan, luwak umumnya melahirkan anak 2 hingga 5 ekor, kala banyak persediaan santapan.

Balita yang dilahirkan berdimensi kecil cuma dekat 80 gr dengan keadaan mata masih tertutup serta hendak terbuka pada usia 11 hari.

Anak dipelihara di lubang- lubang tumbuhan ataupun celah- celah bilik/ batu buat keamanan hingga masa penyapihan pada usia 2 bulan.

Berikutnya anak Luwak hendak hadapi perkembangan yang kilat serta hadapi berusia kelamin sehabis berusia satu tahun.

Walaupun secara klasifikasi musang tercantum hewan karnivora( pemakan daging), tetapi di habitat alaminya hewan ini lebih menggemari buah- buahan, sehingga cenderung diucap frugivora( pemakan buah- buahan) ataupun dikategorikan bagaikan hewan omnivora ataupun pemakan seluruh.

Tipe pakan yang disukai spesialnya merupakan buah- buahan yang ranum serta rasanya manis, semacam mangga, rambutan, pepaya, pisang serta buah aren.

Tidak hanya itu sebagian tipe musang, paling utama Luwak pula menggemari buah kopi.

Salah satu kelebihan Luwak dalam komsumsi buah kopi ialah kemampuannya memilah biji kopi masak merah serta fresh dengan memakai energi penciumannya yang tumbuh sangat baik.

Dalam kaitan tersebut, secara ekologi Luwak pula mempunyai kedudukan bagaikan hewan penyebar biji.

Tidak hanya itu bagaikan bonus tipe pakannya, Luwak pula memakan mamalia kecil semacam tikus, tupai, unggas, telur, reptil, serangga, cacing, serta keong.

Luwak : Fisiologi, Perilaku, Jenis Musang dan Persebarannya serta Mengenal Tentang Kopi Luwak


Produksi Kopi Luwak

Kopi luwak didapatkan dari biji kopi yang dipilah dari kotoran luwak, fauna liar sejenis musang. Kopi ini digemari sebab mempunyai cita rasa unik.

Berbeda dengan cita rasa kopi biasa walaupun dihasilkan dari tumbuhan yang sama. Penciptaan kopi luwak masih sangat terbatas. Jangan heran jika biayanya dapat selangit.

Kopi luwak dapat dikatakan kopi khas Indonesia, walapun ditemui pula di Filipina. Bangsa kita mengenalnya semenjak jaman pemerintah kolonial.

Kuli perkebunan dikala itu terbiasa komsumsi kopi luwak, sebab para tuan kebun membolehkan kuli mengambil buah yang jatuh buat mengkonsumsi sendiri.

Tercantum biji kopi yang ditinggalkan luwak dalam kotorannya. Kerutinan ini diyakini bagaikan dini dikenalnya kopi luwak.

Ada 2 tipe kopi luwak, ialah kopi dari luwak liar serta luwak tangkaran. Kopi luwak liar didapatkan dari kotoran luwak di alam leluasa.

Umumnya kotoran luwak tersebut dipungut dari hutan- hutan di dekat perkebunan kopi. Kopi luwak liar dipercaya mempunyai mutu yang lebih baik dibandingkan luwak tangkaran.

Kopi luwak tangkaran didapatkan dengan metode membudidayakan luwak dalam kandang. Setelah itu luwak tersebut diberi makan kopi.

Kotorannya ditampung serta biji kopi yang ada didalamnya dipilah buat diolah lebih lanjut.

Bersamaan meningkatnya permintaan pasar, kopi luwak yang dihasilkan luwak liar terus menjadi susah didapat.

Perihal ini mendesak para pelakon usaha buat membudidayakan luwak secara spesial supaya dapat diambil biji kopinya. Mereka memproduksi kopi dengan langkah- langkah bagaikan berikut:

Menyeleksi buah kopi yang bermutu baik buat diberikan pada luwak. Setelah itu buah tersebut dicuci serta dibersihkan.

Sehabis itu buah kopi diberikan pada luwak. Hewan ini masih hendak memilihnya lagi. Luwak memiliki indera penciuman yang tajam. Ia ketahui buah kopi terbaik yang layak dimakan.

Sehabis itu tunggu sampai luwak menghasilkan feses ataupun kotorannya. Pengambilan feses umumnya dicoba pagi hari.

Feses yang memiliki biji kopi dikumpulkan serta dibersihkan dalam air mengalir. Setelah itu jemur biji kopi dijemur sampai kering. Biji kopi dari kotoran luwak masih mempunyai susunan tanduk yang wajib diolah lebih lanjut.

Biji kopi yang sudah dicuci serta dikeringkan diolah lebih lanjut dengan proses basah. Buat lebih perinci menimpa metode proses pengolahan tersebut silahkan baca pengolahan biji kopi.

Demikian Uraian kami tentangĀ Luwak Semoga uraian ini bisa menginspirasi para pembaca dan bermanfaat serta memberikan tambahan ilmu pengetahuan bagi para pemula. Mohon abaikan saja uraian kami ini jika pembaca tidak sependapat. Terima kasih atas kunjungannya.