Budidaya Wijen : Trik Mudah dan Sukses Penanaman, Perawatan serta Panen

Budidaya Wijen : Trik Mudah dan Sukses Penanaman, Perawatan serta Panen – Para Pembaca yang kami banggakan, Tanam.co.id kali ini akan menjelaskan tentang Budidaya Wijen .

Dan menerangkan tentang fungsi serta manfaatnya. Untuk lebih jelasnya mari kita baca uraiannya berikut ini.


Contents

Budidaya Wijen : Trik Mudah dan Sukses Penanaman, Perawatan serta Panen


Wijen( Sesamum indicum) ialah salah satu tumbuhan tropis yang gampang dibudidayakan serta tahan kering.Budidaya wijen jadi kesempatan usaha yang terus menjanjikan.

Perihal ini disebabkan tumbuhan wijen sangat dibutuhkan buat industri makanan serta pula minyak goreng di bermacam negeri di dunia.

Permintaan pasar terhadap komoditas wijen ini juga sangat besar, spesialnya dari negeri Jepang, Amerika, dan Eropa.

Di negeri Jepang itu sendiri wijen digunakan bagaikan alterasi menu santapan semacam halnya wijen dicampur dengan saus buat shabu- shabu, hotdog, dan humberger.


Ketentuan Tumbuh Wijen

Wijen bisa berkembang baik dengan curah hujan 450- 600 milimeter sepanjang masa tumbuhnya, menghendaki temperatur hawa besar serta kering. Tumbuhan semusim ini panen pada usia 2, 5- 5 bulan.

Budidaya wijen relatif gampang, input rendah, serta efek kegagalan kecil. Tumpangsari tumbuhan wijen dengan tumbuhan lain, misalnya palawija serta tumbuhan industri, sanggup tingkatkan pemasukan petani.

Lahan tadah hujan merupakan lahan pertanian yang pengairannya cuma mengandalkan air hujan serta irigasi susah dicoba ataupun biasa diucap lahan kering.

Pada lahan tadah hujan, wijen bisa dibudidayakan pada lahan tegal pada dini masa hujan.Apabila wilayah tersebut mempunyai embung, wijen pula bisa ditanam pada lahan sawah setelah padi pada masa kemarau.

Embung ialah tempat menampung air pada masa hujan serta bisa digunakan buat mengairi tumbuhan pada masa kemarau.

Wijen tercantum tumbuhan tahan kering, sehingga apabila sehabis berusia 2 bulan sampai panen tidak mendapatkan air, tumbuhan hendak senantiasa berkembang dengan baik.

Wilayah sentra pengembangan komoditas wijen biasanya terletak pada wilayah kering, meliputi Jawa Tengah, Jawa Timur, NTT, NTB, Sulawesi Selatan, Gorontalo, serta Lampung.

Budidaya wijen bisa jadi alternatif yang menguntungkan untuk petani di lahan tadah hujan, baik pada lahan tegal ataupun lahan sawah setelah padi tercantum petani yang mempunyai lahan kecil.

Petani di Sukoharjo serta Rembang menanggulangi kekeringan dengan menanam wijen di lahan sawah setelah padi. Hasil yang diperoleh sangat menggembirakan sebab kualitas wijen lebih baik dari pada dikala masa hujan.


Langkah-Langkah Budidaya Wijen


  • Pemilihan Bibit

Tubuh Riset serta Pengembangan Pertanian sudah menciptakan sebagian varietas unggul wijen dengan tingkatan produktivitas besar. Petani lahan kering bisa memakai varietas Sumberrejo( Sbr) 1, Sbr 2, ataupun Sbr 3.

Ketiga varietas tersebut memiliki kemampuan penciptaan 1, 3 ton/ ha dengan usia panen 90- 110 hari. Buat lahan sawah setelah padi, petani bisa memakai varietas Sbr 4. Varietas Sbr 4 cocok digunakan pada MK- 2

Sebab berusia genjah ialah 75- 85 hari, paling utama buat wilayah tadah hujan yang menanam padi dengan sistem gogo rancah serta walik jerami dalam setahun.

Keempat varietas tersebut ialah tipe wijen putih yang digunakan dalam industri santapan ringan.Varietas Sbr 4 lebih disukai oleh industri sebab bijinya kecil sehingga jumlah per kilogram nya banyak serta lebih lengket.

Pada lahan sawah tadah hujan yang menanam padi satu kali dalam setahun pula bisa memakai varietas Wijen Nasional( Winas) 1, Winas 2, serta Winas 3.

Ketiga varietas Winas tersebut ialah varietas buat lahan sawah dengan usia panen 98- 102 hari serta kemampuan penciptaan 1, 8- 2, 2 ton/ ha.

Budidaya wijen diharapkan bisa jadi alternatif komoditas untuk petani lahan tadah hujan buat bisa mendapatkan keuntungan serta kesejahteraan yang lebih baik.

  • Waktu tanam

Daerah yang bercurah hujan pendek dengan jenis udara D4, E3, serta E4, wijen ditanam pada dini masa penghujan supaya tumbuhan tidak hadapi hambatan temperatur tanah, ketersediaan air, serta jasad pengganggu.

Pada lahan sawah setelah padi awal( MK- 1) ataupun padi kedua( MK- 2) di masa kemarau, wijen ditanam lekas sehabis tumbuhan tadinya dipanen.

  • Jarak tanam

Secara universal, wijen yang bercabang( Sbr 1, Sbr 3, serta Sbr 4) diajarkan memakai jarak tanam 60× 25 centimeter, ataupun 50× 25 centimeter,

sebaliknya varietas yang tidak bercabang( Sbr 2) diajarkan dengan jarak tanam 40× 25 centimeter dengan 2 tumbuhan per lubang.

  • Pola tanam

Pengembangan wijen di lahan sawah banyak dicoba secara monokultur.

Hendak namun, dengan pertimbangan resiko kegagalan serta kenaikan pemasukan, bisa ditanam secara tumpang sari, tumpang sisip, ataupun kombinasi( 2 tumbuhan ataupun lebih ditanam secara bertepatan).

Di lahan kering wijen bisa ditumpangsarikan dengan jagung, kapas, jarak kepyar, kacang hijau, kacang tanah, ataupun padi gogo.

Tumpang sari wijen dengan jagung, serta sehabis jagung dipanen disisipi kacang hijau membagikan penerimaan lebih besar dari pada wijen monokultur ataupun jagung monokultur, ataupun kacang hijau monokultur.


Perawatan Tanaman Wijen


  • Pemupukan

Pemupukan dilahan kering digunakan N( 100 kilogram Urea/ ha), P2O5( 50 kilogram SP- 36/ ha) serta K2O( 50 kilogram KCl/ ha).

Pemupukan di lahan sawah setelah padi dengan 150 kilogram urea/ ha. Urea 1/ 3 dosis, P serta K diberikan pada waktu tanam, sebaliknya 2/ 3 dosis Urea diberikan pada dikala tumbuhan berusia 30—35 hari sehabis tanam.

Metode pemupukan serta penempatan pupuk hendaknya dengan metode ditugal dengan jarak dekat 5 centimeter dari lubang tanam serta kedalaman 2, 5—5, 0 centimeter, serta ditutup dengan tanah.

  • Pengendalian gulma serta penggemburan tanah

Periode kritis terdapatnya gulma, ialah pada dini tanam hingga menjelang berbunga. Oleh sebab itu, pengendalian gulma diajarkan mulai dini perkembangan hingga usia 45 hari.

Sehabis usia tersebut, perkembangan lebih kilat serta tumbuhan menutup lahan di bawahnya sehingga sanggup menekan gulma sebab sebagian besar gulma tidak tahan naungan.

Tidak hanya disiang, butuh dicoba pembumbunan yang dicoba bertepatan dengan penyiangan serta pendangiran, ialah pada dikala tumbuhan berusia dekat 30—45 HST.

Pembumbunan dimaksudkan pangkal tumbuhan bisa menembus susunan tanah lebih dalam. Penyiangan dicoba 2—3 kali.

Budidaya Wijen : Trik Mudah dan Sukses Penanaman, Perawatan serta Panen

Panen serta Pasca Panen

Waktu panen yang pas merupakan apabila sebagian besar polong telah bercorak hijau kekuningan, serta daun telah mulai rontok. Panen dicoba dengan metode memotong batang wijen 15– 20 centimeter di dasar peran polong.

Batang wijen dibendel dengan garis tengah 15– 20 centimeter, setelah itu dijemur secara berdiri, ditumpukan di para- para bambu.

Jika cuaca panas, dijemur 7 hari polong- polong ujungnya telah membuka serta telah bisa dibijikan dengan membalik bendelan sembari dipukul- pukul dengan kayu supaya biji keluar dari polong.

Sehabis biji dikeluarkan setelah itu bendelan dijemur kembali, serta pada hari selanjutnya dibijikan kembali buat menghasilkan biji yang masih tersisa. Biji setelah itu ditampi serta dijemur hingga kering dekat 2 hari.

Demikian Uraian kami tentang Budidaya Wijen Semoga uraian ini bisa menginspirasi para pembaca dan bermanfaat serta memberikan tambahan ilmu pengetahuan bagi para pemula. Mohon abaikan saja uraian kami ini jika pembaca tidak sependapat. Terima kasih atas kunjungannya.